Lini serang tim nasional Prancis berhasil mencuri perhatian besar dalam gelaran Piala Dunia 2026. Setelah sukses menyapu bersih tiga pertandingan di fase grup dengan kemenangan, skuad Les Bleus langsung menumbangkan Sweden dengan skor telak 3-0 pada babak 32 besar. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, hasil tersebut sempat membuat Prancis menjadi tim paling produktif di turnamen dengan koleksi 13 gol, di mana megabintang Real Madrid, Kylian Mbappe, mendominasi lewat catatan enam gol dari empat laga.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Ketajaman lini depan Prancis memicu perbandingan dengan barisan penyerang legendaris terdahulu, salah satunya skuad West Germany pada Piala Dunia 1954. Menurut catatan sejarah, tim asuhan Sepp Herberger tersebut sukses mencetak total 25 gol. Serangan mereka dimotori oleh kapten Fritz Walter bersama Max Morlock yang mengemas enam gol, serta pahlawan kemenangan Helmut Rahn, didukung produktivitas Hans Schafer dan Ottmar Walter yang masing-masing membukukan empat gol.
Kisah ketajaman menyerang juga pernah diukir oleh tim Prancis pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Penyerang legendaris Just Fontaine tampil sangat mematikan dengan mencetak 13 gol hanya dalam enam pertandingan. Dari pantauan redaksi, kesuksesan Fontaine tidak lepas dari pelayanan luar biasa dua penyerang sayap, Roger Piantoni dan Raymond Kopa, yang masing-masing menyumbang tiga gol, bahkan Kopa berhasil memecahkan rekor sembilan assist dalam satu edisi turnamen.
Bicara soal estetika menyerang, tim nasional Netherlands pada Piala Dunia 1974 menjadi salah satu yang paling ikonik melalui konsep "Total Football". Diarsiteki Rinus Michels, pergerakan sang maestro Johan Cruyff ditopang dengan sangat baik oleh dua penyerang sayap lincah, Johnny Rep dan Rob Rensenbrink. Ditambah dukungan gelandang serang Johan Neeskens, kombinasi lini depan ini menyumbangkan total 10 gol dan membawa De Oranje melaju hingga ke babak final.
Sejarah Piala Dunia juga mencatat nama besar tim nasional Hungary edisi 1954 sebagai tim paling subur sepanjang masa dengan raihan 27 gol. Kuartet lini serang mereka yang dijuluki "The Mighty Magyars" diisi oleh Ferenc Puskas, Sanco Kocsis, Nandor Hidegkuti, dan Zoltan Czibor. Berdasarkan data statistik, kombinasi penyerang mematikan ini menyumbang hampir seluruh gol tim, dengan Kocsis sendiri keluar sebagai top skor lewat gelontoran 11 gol.
Beralih ke era modern, trio lini serang Brasil pada Piala Dunia 2002 yang dihuni Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho menjadi salah satu yang paling ditakuti. Ronaldo sukses menebus kegagalan masa lalu dengan menyabet gelar juara sekaligus mencetak delapan gol sepanjang turnamen. Ketajaman Ronaldo didukung penuh oleh Rivaldo yang menjadi Pemain Terbaik saat melawan Belgium dan England, serta kreativitas Ronaldinho yang memukau dunia.
Predikat lini serang terbaik sepanjang masa dinilai banyak pihak masih dipegang oleh skuad Brasil pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Skuad Selecao kala itu diperkuat oleh jajaran penyerang legendaris seperti Rivellino, Tostao, dan Jairzinho yang mencetak sejarah dengan selalu membobol gawang lawan di setiap laga. Lini depan impian ini disempurnakan oleh kehadiran sang raja sepak bola, Pele, yang mengemas empat gol untuk membawa Brasil merengkuh trofi Jules Rimet yang ketiga kalinya.