Erica Parkinson baru berusia 12 tahun ketika dia meletakkan target besarnya kepada seorang pelatih mental yang telah menghabiskan enam tahun terakhir untuk membantunya merencanakan rute ke puncak permainan. "Saya ingin bermain untuk Inggris di Piala Dunia," tegasnya saat itu. Berdasarkan perkembangan saat ini, setelah menjadi pemain muda yang paling cepat dipanggil ke skuad Lionesses di bawah asuhan Sarina Wiegman dan baru saja menandatangani kontrak dengan North Carolina Courage di NWSL, bukan hal yang mustahil jika impian tersebut dapat terwujud dalam 12 bulan ke depan.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Langkah ini terinspirasi dari dunia rugbi. Selama bertahun-tahun, All Blacks, tim uni rugbi terkenal asal Selandia Baru, sempat tampil di bawah performa terbaiknya. Setelah memenangkan Piala Dunia Rugbi pertama pada tahun 1987, mereka kerap tersingkir di babak krusial pada edisi-edisi berikutnya. Bekerja sama dengan Gazing Performance menggunakan prinsip "Red2Blue", All Blacks belajar bagaimana mengubah stres dan kecemasan menjadi pola pikir yang jelas dan terfokus untuk meraih gelar juara. Kesuksesan luar biasa All Blacks pada tahun 2011 kemudian menarik perhatian ayah Parkinson yang saat itu tengah mencari pelatih mental untuk anak-anaknya.
CEO Gazing Performance, Martin Fairn, mengenang pertemuan pertamanya dengan Erica Parkinson yang saat itu masih sangat muda. Menurut Fairn, ketika seorang anak berusia 12 tahun menyatakan impian sebesar itu, hal tersebut membuka pintu untuk percakapan yang sangat positif ke depan. Melalui pendekatan khusus, Gazing menanamkan pemahaman bahwa mentalitas adalah sebuah keterampilan yang bisa dipelajari, dilatih, dan ditingkatkan layaknya kemampuan teknis di lapangan.
Dari pantauan redaksi, latihan mental yang dijalani Parkinson berjalan beriringan dengan perkembangan fisiknya, membantunya beradaptasi dengan setiap lompatan karier. Mulai dari menembus akademi putra di Portugal, bermain di level senior bersama Valadares Gaia, hingga melewati setiap kategori umur timnas Inggris sebelum akhirnya menembus skuad senior Lionesses. Fairn menjelaskan bahwa setiap kali naik level, Parkinson selalu mempersiapkan dirinya agar siap menghadapi sumber tekanan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Kini, tantangan besar telah menanti setelah Parkinson menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan North Carolina Courage di NWSL, salah satu liga wanita terbaik di dunia yang dihuni talenta kelas dunia seperti Trinity Rodman. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, kompetisi di Amerika Serikat ini juga sangat ramah terhadap perkembangan talenta muda, memberikan menit bermain yang signifikan bagi para pemain remaja jika dibandingkan dengan mayoritas liga papan atas Eropa.
Meskipun usianya masih muda dan minim pengalaman di level tertinggi, Parkinson dinilai memiliki kualitas yang sangat dibutuhkan oleh skuad asuhan Mak Lind tersebut. Kemampuan visi bermain dan kesadaran ruang yang luar biasa yang ia tunjukkan selama di Portugal diprediksi mampu mendongkrak kreativitas lini serang North Carolina Courage. Jika mampu mempertahankan performa impresifnya di Amerika Serikat, peluang Parkinson untuk mengamankan posisi di skuad Lionesses menuju Piala Dunia Wanita akan terbuka lebar.