Dunia sepak bola kembali dibayangkan oleh memori kelam masa lalu menjelang laga krusial di Group J Piala Dunia 2026. Berdasarkan catatan sejarah, tanggal 25 Juni 1982 sempat disebut sebagai hari matinya sportivitas akibat kesepakatan tidak tertulis antara West Germany dan Austria di Gijon. Kini, format baru bentukan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino dinilai berpotensi besar melahirkan kembali skandal serupa dalam laga Austria melawan Algeria di Kansas City.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut analisis para pengamat, keputusan menambah jumlah peserta menjadi 48 tim murni didorong oleh motif uang dan kekuasaan. Semakin banyak tim yang bertanding, semakin besar pula pendapatan yang diraup oleh FIFA dan para anggotanya. Langkah ini secara tidak langsung memperkuat posisi Infantino sebagai presiden organisasi. Namun, perubahan tersebut tampaknya abai terhadap dampak negatif yang merusak esensi kompetisi.
Dari pantauan redaksi, FIFA sebenarnya sempat menyadari cacat dalam rencana awal mereka yang menggunakan format 16 grup berisi tiga tim. Guna menghindari hilangnya drama di laga pamungkas, Dewan FIFA pada Maret 2023 akhirnya mengubah struktur menjadi 12 grup yang masing-masing dihuni empat tim. Melalui rilis resminya, FIFA menyatakan bahwa "Format yang direvisi ini mengurangi risiko kolusi dan memastikan semua tim memainkan minimal tiga pertandingan, sekaligus menyediakan waktu istirahat yang seimbang."
Sayangnya, regulasi baru ini justru melahirkan dilema matematika yang rumit. Sistem ini meloloskan delapan tim peringkat ketiga terbaik demi menggenapi babak 32 besar. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, aturan ini dikritik keras karena dianggap menghargai hasil medioker, di mana sebuah tim tetap bisa melaju meski menelan dua kekalahan. Mantan pemain internasional Scotland, Craig Burley, bahkan sempat menyindir situasi tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk "penghargaan terhadap kepasrahan total".
Dampak yang lebih serius adalah meningkatnya peluang main mata karena Austria dan Algeria bermain di slot waktu paling akhir. Algeria mengetahui bahwa hasil imbang di Kansas City sudah cukup membawa mereka lolos. Di sisi lain, hasil imbang juga mengamankan posisi kedua bagi Austria. Situasi kian rumit karena regulasi tie-breaker utama kini menggunakan hasil head-to-head, bukan lagi selisih gol, yang membuat laga ini kehilangan tensi kompetitifnya.
Lebih jauh lagi, kedua tim sudah mengetahui peta kekuatan calon lawan di fase gugur. Jika finis sebagai runner-up Group J, mereka harus menghadapi Spain, sedangkan jika finis di peringkat ketiga, mereka berpeluang bertemu Switzerland. Menghindari juara Eropa seperti Spain tentu menjadi opsi yang masuk akal bagi Austria. Meski tidak ada bukti Ralf Rangnick akan menginstruksikan timnya untuk mengalah, format farcikal ini jelas memberikan keuntungan yang tidak adil dibandingkan grup lain.