Keputusan manajer England, Thomas Tuchel, untuk mencoret Cole Palmer dan Phil Foden dari skuad Piala Dunia kembali memicu perdebatan sengit. Menurut laporan dari goal.com, gelombang kritik ini mencuat setelah The Three Lions tampil mandul dan ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana. England tercatat mendominasi hingga 80 persen penguasaan bola dan melepaskan 19 tembakan, namun dari pantauan redaksi, mereka sangat minim kreativitas dan hanya mampu mencatatkan tiga tembakan tepat sasaran.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis pertandingan, taktik low block rapat yang diterapkan pelatih Ghana, Carlos Queiroz, sukses membuat lini tengah England frustrasi. "Saya sangat bangga dengan cara pemain bertarung dan mematuhi rencana permainan. Ketika Anda harus bertahan, Anda bertahan. Saya tidak bisa bermain samba ketika lawan bermain rock and roll," ujar Queiroz selepas laga. Gaya bermain pragmatis Ghana ini membuat pergerakan Jude Bellingham dan Declan Rice terkunci rapat karena minimnya ruang di lini tengah.
Kendati mendapatkan tekanan berat dari publik dan media, Thomas Tuchel tetap teguh pada pendiriannya terkait sistem taktik 4-2-3-1 yang diusungnya. Menurut pelatih asal Jerman tersebut, pencoretan Cole Palmer dan Phil Foden murni didasarkan pada penurunan performa serta kebugaran kedua pemain di level klub musim lalu. Tuchel menegaskan bahwa sistemnya membutuhkan pemain sayap murni yang melebar dan seorang gelandang nomor 10 yang dinamis, profil yang saat ini dinilai lebih cocok diisi oleh Jude Bellingham, Morgan Rogers, atau Eberechi Eze.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa performa loyo melawan Ghana mengingatkan publik pada era Gareth Southgate, di mana England kerap tampil tanpa arah meski dipenuhi pemain bintang. Namun, Tuchel mengingatkan kembali momen kemenangan 4-2 atas Croatia di laga pembuka sebagai bukti nyata bahwa sistem taktisnya mampu tampil sangat mengerikan dan mengontrol penuh permainan ketika mendapatkan ruang yang tepat.
Menghadapi laga krusial berikutnya melawan Panama yang diprediksi akan menerapkan strategi bertahan serupa, Tuchel mengisyaratkan telah mengantongi rencana darurat. "Saya mendapat sebuah ide pada jeda minum terakhir, tetapi saya sedikit ragu. Saya punya cara bagaimana kami bisa melibatkan lebih banyak pemain di area tengah. Saya tidak ingin menjelaskannya sekarang, karena mungkin kami akan mencobanya nanti di turnamen," ungkap Tuchel. Kini, publik menanti sejauh mana fleksibilitas taktik sang manajer untuk membawa England melangkah jauh di Amerika Utara.